Bila Dia Tak Seperti Yang Dibayangkan

Posted: 29 Oktober 2010 in Wawasan

Bayangan tentang pasangan sebelum menikah tak sepenuhnya mirip dengan realitas yang dihadapi setelah pernikahan. Akan ada hal di luar dugaan tentang pasangan yang kita temui. Lalu, jika kejutan yang muncul itu buruk, bagaimana cara menyikapi dan mengantisipasinya.

Hanifah (bukan nama sebenarnya) benar-benar shock. Sore ini ia memergoki suaminya, yang baru menikahinya beberapa hari lalu, mamiliki tattoo pada pangkal lengannya. Tattoo bergambar laba-laba itu terpatri permanen di pangkal lengan kanannya.

Ini memang kejutan besar bagi Hanifah. Pasalnya, suaminya memang dikenal sebagai pria saleh yang berhati lembut oleh teman-teman dekatnya. Siapa yang sangka dia mantan preman. Ketika ta’aruf di saat proses pernikahannya Hanifah tak berminat bertanya tentang masa lalu pria yang kini telah menjadi suaminya itu. “Toh semua orang disekitarnya mengatakan dia orang baik, buat apa lagi mengorek masa lalunya,” Begitu fikirnya waktu itu. Namun kini ketika ia menemukan tattoo itu tak urung Hanifah merasa mendapat kejutan besar.

Hanifah benar dengan sikapnya yang tak mau mengorek aib masa lalu dari orang yang ingin meminangnya itu. “Mengenai aib masa lalu, kalau memang dia sudah taubat, menurut saya tidak usah lagi dicari-cari. Biarlah berlalu. Allah saja menutup aib, mengapa kita tidak bisa? Yang penting sekarang dia sudah baik,” Begitu pendapat Herlini. Namun keterkejutan, juga manusiawi , siapa yang membayangkan seorang yang lembut hati, rajin beribadah pula memiliki tattoo di lengannya. Untungnya Hanifah cepat tersadar dari keterkejutannya itu, sehingga perasaan dan pikirannya tak terhanyut dalam masalah itu. “Yang penting sekarang ia sudah jadi laki-laki yang sholeh,” katanya dalam hati. Ia pun mengukuhkan kembali niat menikah adalah untuk menjadikan rumah tangga sebagai ladang amal bagi dirinya.

Apa yang dialami oleh Hanifah merupakan salah satu bentuk kejutan yang mungkin muncul setelah pernikahan. Munculnya sifat atau kebiasaan buruk yang selama ini tak pernah terungkap dapat menimbulkan percecokan yang berkepanjangan. Apa lagi pada pasangan yang mengawali pernikahan mereka dengan pacaran. “Aku kenal dia dulu tak seperti ini!” Biasanya kalimat seperti ini yang keluar dari mulut mereka, plus ekspresi yang penuh kejengkelan.

Lalu bagaimanakah menanggulangi masalah ini? Berikut pendapat beberapa nara sumber yang dihubungi Safina.

Fauzil Adhim, Psikolog

Memang menurut Fauzil Adhim, pacaran membawa resiko sulitnya merubah persepsi tentang pasangan. Orang akan memandang pasangannya seperti apa yang ia ketahui dulu. Jika sekarang ia menemukan sesuatu yang berbeda, ia jadi sulit menerima dan menyesuaikan diri.

Di sinilah letak pangkal masalahnya. Menurut Fauzil persepsi tentang pasangan akan menumbuhkan harapan-harapan tertentu terhadap perkawinan. Resiko dari setiap haarapan adalah kekecewaan, daan kekecewaan tentu saja akan mempertajam perselisihan dan memperlemah kemampuan menyesuaikan diri.

Lebih lanjut Fauzil menjelaskan, “Jika marital expectation (angan-angan perkawinan, red) berbanding terbalik dengan marital satisfaction (kepuasan perkawinan), tidak demikian halnya dengan marriage orientation (orientasi atau landasan menikah). Semakin mendasar orientasi perkawinan seseorang, insya Allah semakin mudah meraih kebahagiaan perkawinan.” Ini artinya kebahagiaan perkawinan lebih berkait dengan apa yang menggerakkan seseorang menikah dan menjalani pernikahan.

Menurut psikolog yang juga dikenal sebagai Ustadz ini, hadits-hadits tentang pernikahan dan memilih jodoh lebih banyak mengajarkan soal membangun marriage orientation yang baik, mantap dan mendasar. “Ini mempengaruhi komitmen kedua pihak. Jika harapan membawa kita banyak menuntut pasangan, maka komitmen lebih membimbing kita untuk menerima dan pada saat yang sama berbuat,” katanya.

Fauzil kembali menegaskan, “Kenyataannya, yang banyak mempengaruhi percekcokan dan kehancuran rumah tangga bukanlah masalah pengenalan yang kurang mendalam dan ketidaksesuaian pasangan dengan bayangan semula.”

Baginya yang terpenting adalah memiliki sikap mental yang dewasa dan matang. “Bahwa ada perbedaan, itu sangat wajar. Ada yang tidak kita sukai, juga sangat wajar.” Ia menambahkan, terhadap diri sendiri pun, seringkali ada yang tidak disukai. Ia mengambil contoh misalnya seseorang ingin menjadi orang yang rajin qiyamul lail, tetapi sering tak sanggup bangun meski saat itu sudah terjaga. “Ini jelas tidak ia sukai, dan orangnya adalah dirinya sendiri. Tetapi apakah karena itu ia harus menyakiti diri sendiri? Tidak. Yang diperlukan adalah menata, memperbaiki dan memulihkan (jika sebelumnya baik).” Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan penyesuaian diri, menyatakan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan serta bagaimana cara mengubah sikap pasangan.

Bagaimana kalau dia tidak mau diubah? “Pertanyaan itulah yang justru membuat perubahan tidak mungkin terjadi. Ini pertanyaan pesimistik, dan membuat kita cepat lelah.”

Bagi Fauzil segala sesuatu bersifat tadarruj (bertahap). Tanpa melalui tahap-tahap yang wajar, yang terjadi bukan perubahan positif. “Tetapi kenapa kita tidak tahan menjalani proses perubahan? Sepanjang pengalaman klinis, orang yang tidak sabar berproses umumnya justru orang yang memang perlu memperoleh terapi, karena merekalah sesungguhnya yang paling bermasalah, meskipun kelihatannya baik-baik,” tuturnya. Ada yang harus dibenahi dalam diri mereka, dalam jiwa mereka. Atau mereka merasa dirinya sangat baik, bahkan teramat baik atau malah sempurna, sehingga maunya pasangan berubah seketika, saat itu juga.

Memang adakalanya keluhan tentang pasangan yang tidak mau berubah disebabkan oleh persoalan psikologis pasangan, tetapi itu sifatnya kasuistik. Sesuatu yang bersifat kasuistik, tidak bisa dijadikan dalil umum.

Sebenarnya ada kekuatan besar yang mampu membuat orang tangguh dalam menghadapi segala kesulitan, termasuk problema rumah tangga, kekuatan ini bernama niat. Dalam bahasa psikologi sering diungkapkan dalam istilah intensi, motivasi maupun orientasi. “Ini mempengaruhi persepsi kita dalam menghadapi segala sesuatu,” kata Fauzil.

Seorang petualang, menganggap kesulitan saat mendaki gunung sebagai tantangan yang memberi kebahagiaan, kepuasan dan makna. Mereka bahkan sengaja melewati jalur sulit yang belum pernah, atau sangat jarang, dilalui pendaki lain. Tetapi seorang yang datang ke gunung sekedar untuk rekreasi dan memperoleh nikmatnya pemandangan, sulitnya medan akan terasa sebagai derita berkepanjangan.

Menikahpun demikian, ada yang berangkat dengan bekal mental sebagai petualang yang ingin menancapkan cita-cita besar, ada yang berangkat dengan romantisme belaka, tetapi dirinya sendiri tak sanggup membangun suasana romantis. “Nah, kunci dari semua itu adalah niat, termasuk bagaimana kita memandang pernikahan serta bagaimana kita menempatkan pernikahan, sebagai tempat untuk dilayani saja,” tutup Fauzil Adhim.

Herlini Amran, Ustadzah

Herlini mengatakan ada dua hal yang harus dilakukan setiap pasangan untuk mencapai kebahagiaan yaitu ta’aruf pasca nikah yang mendalam serta membangun komitmen pernikahan sejak awal. Ia menjelaskan, “Pertama-tama yang harus kita ingat, proses pernikahan yang kita lakukan adalah tanpa pacaran. Nah, setelah menikah diperlukan proses ta’aruf yang lebih mendalam. Dan sebelum pernikahan terjadi, sudah ada kesepakatan bahwa pernikahan ini adalah membentuk rumah tangga sebagai ladang amal atau ladang ibadah.”

Herlini juga berpendapat orientasi dan komitmen pernikahan ini dapat menumbuhkan rasa saling memahami di saat munculnya perbedaan antara suami-istri. Ia menambahkan, “Dengan komitmen awal yang dibuat sebelum menikah tadi maka kita ada keinginan untuk saling membahagiakan pasangan kita.”

Ta’aruf pasca nikah dilakukan dengan banyak-banyak dialog dan komunikasi. “Biarkanlah pasangan kita yang mengenalkan dirinya pada kita. Misalnya dengan mengatakan, ‘saya tuh orangnya begini, begitu, kalau saya marah kamu diam dulu, nanti kalau suasana adem baru perbincangan dilanjutkan.’,” katanya.

Selain itu dituntut sikap saling menerima kekurangan pasangan kita, tentunya masing-masing pribadi juga harus mau saling membangun dirinya sendiri.

Menurut Herlini, “manusiawi sekali jika seorang suami atau istri kurang berkenan dengan perilaku pasangannya.” Tapi itu bisa diredam dengan banyak-banyak berlapang dada, sabar. “Yang penting diingat, kita tidak mungkin membandingkan diri kita dengan pasangan kita, karena pakaian kita belum tentu cocok dengan orang lain,” kata ustadzah muda ini.

Kunci keberhasilan menyikapi perbedaan karakter dengan pasangan adalah syukur dan bersabar. Bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan, dan bersabar dengan kekurangan pasangan.***

Mengenal Pasangan Pasca Pernikahan
(Pengalaman Ali Muakhir Penulis Novel dan Komik)

Sebelum menikah dulu, saya sudah mengenal istri saya sekitar 1,5 tahun. Memang tidak kenal begitu dekat, tapi sudah terekam dalam benak saya, dia tuh orangnya seperti ini, sifat-sifatnya kira-kira seperti itu. Dan saya sama sekali tidak mencari sumber informasi untuk menggali tentang istri saya, saya yakin saja. Memang sih waktu proses khitbah dulu sempat dapat telepon yang mengatakan sesuatu yang tidak enak tentang istri saya. Saya sempat shock, tapi karena berita itu tidak jelas, saya anggap itu cobaan, dan saya maju terus.

Setelah menikah, rasanya wajar kalau kita menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita pada pasangan. Kuncinya bagi saya adalah komunikasi. Masalahnya istri saya itu sangat pendiam, sangat sulit untuk membuatnya terbuka. Seringkali saya berusaha memancing dia untuk banyak bercerita,banyak curhat, tapi sulit. Dia selalu takut salah ngomong, jadi kalau berbicara juga sangat memilih kata, sehingga susah untuk tahu isi hatinya yang mendalam. Sampai sekarang kita sudah lima bulan menikah, saya masih terus berusaha mengenal dia.

Untuk saling mengenal dan mencari tahu tentang pasangan, biasanya kita mengadakan koreksi atau evaluasi. Dulu awal menikah, seminggu sekali setiap Sabtu saya ajak dia makan di luar. Di sana kita review saling bicara, saling terbuka, kira-kira ada tidak sih tingkah laku saya yang menyakiti dia, atau apakah kita telah melakukan kesalahan, demikian pula sebaliknya. Proses evaluasi itu terus diupayakan, tapi sekarang sudah sebulan sekali, mungkin nanti tiga bulan sekali, pokoknya harus ada. Dari sana kan komunikasi terbangun, dicari jalan keluarnya, bagaimana mencari solusinya, dan ada upaya memperbaiki diri.

Saya lebih suka menggali segala sesuatunya tentang istri secara langsung, tidak melalui orang lain, karena saya takut yang saya dapatkan kurang enak, nanti kitanya jadi berpikir negative. Dan saya lebih suka apa adanya. Apa adanya diri kita ya kita jabarkan.

Karena saya sulit membuat istri saya yang pendiam menjadi banyak bicara, terutama untuk mengungkapkan isi hatinya, saya cari solusi dengan tulisan. Ternyata berhasil, bahkan dia bisa marah-marah lewat sms atau note.

Sebagai contoh, saya orangnya terlalu mandiri dari dulu, awalnya saya tidak menyadari kalau kemandirian saya membawa masalah bagi istri saya, dia jadi merasa tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan. Sekarang saya selalu mengupayakan apa-apa saya bicarakan. Sebagai suami saya tidak mau mengekang dia, dia mau kemana asal ijin, saya tidak masalah. Saya nggak mau membuat dia terpaksa.

Selain komunikasi, saya juga menekankan kita harus memulai dari hal yang kecil. Dari evaluasi itu terbaca apa kesalahan kita, jadi kita ubah secara bertahap.

>>>www.eramuslim.com<<<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s