Berkah Dalam Keterbatasan

Posted: 29 Oktober 2010 in Wawasan

Hari masih pagi ketika aku mulai sibuk di dapur menyiapkan bento. Hari itu kami sekeluarga berencana pergi ke bazaar. Bazaar adalah pasar loak atau pasar yang khusus menjual barang-barang bekas. Karena bazaar kali ini agak jauh dari apartemen jadi kami harus berangkat pagi-pagi berpacu dengan pengunjung bazaar lainnya.

“Ohayou”, terdengar suara anak perempuanku yang baru saja keluar dari kamar tidur.
“Ohayou”, jawabku sambil terus memasukkan onigiri ke kotak bento
“Mai kemana Mi?”, tanyanya ketika melihat ada tatanan bento di meja makan.
“Ke bazaar”,jawabku singkat.
“Heee ke bazaar? horeeee”, teriaknya girang
“Belikan mainan itu ya Mi dan bla bla bla” dia sebut satu persatu nama mainan yang pernah dilihatnya di iklan TV.
“Kalau murah belikan ya Mi”, katanya lagi penuh permohonan
“Iya”, jawabku sambil tersenyum dalam hati, selalu saja di pakai kata kalau murah setiap minta dibelikan sesuatu.Hari itu waktu kami habis untuk mengunjungi dua bazaar yang letaknya berdekatan. Kebetulan sekali lokasi bazaar dekat dengan masjid Kobe, satu-satunya masjid yang ada di Kobe, kota tempat kami tinggal selama ini. Di masjid tua itulah kami numpang sholat Dzuhur dan istirahat sejenak sambil makan siang. Pulang ke rumah hari sudah sore rasanya capek sekali. Untung anak-anak tidur cepat malam itu.

Malam itu seperti biasa setelah anak-anak tidur aku duduk menikmati kesendirian di dapur yang merangkap ruang makan dan ruang keluarga. Sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan kalau anak-anak masih bangun. Mataku berkeliling memandangi ruang sempit itu. Satu persatu barang-barang yang tidak terlalu banyak itu aku perhatikan. Dari gelas, piring, jam dinding, televisi sampai bertumpuk pakaian yang tersimpan di dalam container box. Sebagian besar barang-barang itu kami beli dari bazaar. Sebagian lagi warisan dari teman-teman yang sudah pulang ke Indonesia.

Alhamdulillah, Allah telah memberikan kesempatan pada kami untuk memiliki semua ini meskipun sebagian besar adalah barang bekas. Tapi bukankah kami masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka, yang tinggal di kolong jembatan, di barak-barak penampungan, dan di panti asuhan. Jangankan pakaian, untuk makan saja terpaksa mengharap belas kasihan orang lain atau harus mengorek tong sampah untuk mencari ceceran rejeki orang yang terbuang disana. Semua dilakukan dengan tidak mempedulikan lagi rasa malu demi untuk menenangkan tangisan perut yang kelaparan.
Hampir lima tahun kami sekeluarga tinggal di sini, di Jepang. Negara dengan biaya hidup termahal kedua sedunia setelah Amerika, hanya mengandalkan uang beasiswa suami yang jumlahnya sangat terbatas. Orang Jepang bilang jumlah segitu tidak mungkin untuk membiayai hidup kami sekeluarga disini. Tidak jarang kami harus mengorbankan salah satu keinginan untuk mewujudkan keinginan yang lain. Tapi kami harus tetap bertahan demi tugas yang belum terselesaikan.

Keterbatasan biaya yang pada awalnya kami rasakan sebagai cobaan, kini kami sadari telah menjadi guru yang sangat istimewa yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Kondisi ini menuntut kami untuk hidup sederhana, sangat sederhana. Keterbatasan ini telah membuat kami lebih dekat satu sama lain saling menguatkan dan saling membantu, lebih bisa bersabar, lebih bisa mengendalikan diri dan bisa menerima sesuatu apa adanya tanpa harus banyak menuntut. Keterbatasan ini juga mengajarkan bagaimana hidup berhemat yang pada awalnya terasa sangat berat tapi kini kami rasakan sebagai suatu kenikmatan tersendiri. Sesuatu yang mungkin tidak bisa kami pelajari jika tinggal di Indonesia.

Dalam keterbatasan ini Allah masih berkenan memberikan banyak kenikmatan lain. Kesehatan yang mengiringi aktifitas kami. Keluarga yang manis dengan sepasang anak yang cerdas yang selalu menceriakan hari-hari ini. Orang tua dan saudara di tanah air yang tak pernah henti berdoa dan memberi semangat kepada kami, teman-teman di sini yang teramat baik yang selalu mendukung dan siap sedia memberi bantuan kapan pun kami membutuhkan tanpa mengharap imbalan apa pun. Dan masih banyak lagi nikmat Allah yang kami rasakan dalam keadaan seperti ini.
Begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kami, tapi terkadang hati ini terlalu angkuh hanya untuk mengucapkan syukur, atau hati ini telah bebal hingga tidak bisa mengartikan makna nikmat dan syukur. Astagfirullah hal adzim, ampuni kami ya Allah.

Belanjaan tadi siang ada di kamar depan. “Lho Mi, belum diberesi”, Suara suami mengagetkan aku. Aahh ternyata aku melamun tadi. Dan kamipun telah disibukkan dengan dua kantong kertas berisi barang-barang bekas yang kami beli di bazaar tadi siang sambil tersenyum bahagia.

Terima kasih buat suamiku tercinta yang telah membawaku kesini untuk mengenali (salah satu) guru yang sejati.

Catatan
Bento: (makanan) bekal
Onigiri: nasi yang dibentuk segitiga atau bulat, lazim untuk bekal
Ohayou: selamat pagi

>>>Sumber : http://www.kafemuslimah.com<<&lt;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s